Article Detail

Memaknai Kemerdekaan RI ke-72

Hampir semua penduduk Indonesia, baik dari paulau We sampai ke Merauke, memiliki semangat dan kegembiraan yang sama, hal ini  terlihat dari padatnya kegiatan yang dibuat oleh masing-masing panitia baik tingkat RT, RW, Kadus, Kades, Kecamatan, Kabupaten-Kota, Propinsi dan Pusat. Semua memiliki semangat yang sama, semua memiliki kegembiraan yang sama. Entah berupa kerjabakti bersih kampong, mengecat tugu, memasang bendera, memasang umbul-umbul, mengadakan lomba-lomba, mengikuti karnaval, mengikuti upacara bendera dan masih banyak yang lain.

Yang kadang menjadi pertanyaan adalah apakah semangat seperti ini, selalu ada dalam setiap warga  dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara diluar bulan Agustus. Masih ada sebelas bulan yang berbeda. Masihkan semangat gotong-royong, bekerjasama, semangat nasionalisme yang ditunjukkan dengan sikap bersih lingkungan dan hormat kepada  simbul-simbul Negara.

Atau jangan-jangan justru seringkali terjebak dalam euphoria yang menggiring pada semangat-semangat semu, dimana yang terpenting hanyalah bagaimana bergembira tanpa memahami makna sesungguhnya. Melihat kembali sejarah bangsa Indonesia, ada tiga tahap yang sudah dan akan dilewati:

  1. Merebut kemerdekaan

Disrtikan sebagai bentuk perjuangan lahir dan batin untuk dapat keluar dari belenggu penjajahan dan kolonialisme. Dalam hal ini nyawa menjadi pertaruhan.

  1. Mempertahankan kemerdekaan

Semangat yang dihidupkan dalam masa ini adalah bagaimana sesuatu yang sudah diperoleh dengan tetesan darah dan keringat, dimana disana terukir cita-cita mulia yang digoreskan dalam jiwa-jiwa pahlawan yang telah gugur, harus senatiasa dipertahankan.

  1. Mengisi Kemerdekaan

Pada tahap dimana kalimat ini sangat mudah untuk diucapkan tetapi sulit dilakukan,maka seringkali menjadi lebih berat ditlik dari sisi tanggung jawabnya. Tidak jarang dimasa damai dan tenang dari tekanan pihak luar justru semangat bersatu dilandasi jiwa nasionalisme menjadi semakin kabur. Maka yang seringkali terjadi adalah menyakiti dan disakiti oleh saudara sendiri. Dan sebetulnya ini bukanlah cara mengisi kemerdekaan yang sesungguhnya.

Akhir dari tulisan ini sebenarnya hanyalah sebuah ajakan kepada semua warga Negara Indonesia untuk tetap menhidupkan lentera perjuangan para pahlawan, jangan sampai padam meskipun dalam situasi dan suasana merdeka, sebab jiwa-jiwa yang mengukir cita-cita mulia dari sebuah bangsa masih akan terus bertanya, kapan janji suci mereka akan dituntaskan.

Teriring sebuah harapan semoga generasi penerus bangsa selalu ingat akan tanggung jawab itu. Merdeka….Merdeka….Merdeka….

Comments
  • there are no comments yet
Leave a comment